Home > Artikel > Pendidikan Gratis

Pendidikan Gratis

Pendidikan gratis, saat ini seakan-akan menjadi sebuah komoditi yang dijajakan oleh kalangan politik, masyarakat di iming-iming dengan sesuatu yang nampaknya terdengar enak di telinga, namun sesungguhnya apa yang sedang berlangsung dibalik panggung politik masih menjadi tanda tanya besar, apa mungkin akan terjadi penggratisan pendidikan. Djam’an Satori yang dikutip sebuah Harian Umum mengungkapkan:

Negara kita belum konsisten dengan komitmen mencerdaskan kehidupan bangsa. Mencerdaskan kehidupan bangsa berarti masyarakat secara keseluruhan baik miskin maupun kaya namun kenyataannya kesenjangan pendidikan terjadi semakin tajam dan menjadi persoalan penting dalam dunia pendidikan, Wajar Dikdas masih bersifat voluntary atau sukarela artinya pemerintah tidak merasa tanggung jawab untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, sebenarnya solusi dari masalah itu hanyalah kesadaran bahwa pendidikan adalah investasi dan investasi pasti beresiko biaya

Pikiran Rakyat 2 Mei 2008

Djam’an juga menegaskan pada perkuliahan 17 November 2008 bahwa rakyat ini sebetulnya floating significancy atau terkena imbas emosi politik semata, di Jawa Barat misalnya seharusnya target kepemimpinan yang lama kita anggap sudah selesai tidak usah dipikirkan lagi, makanya pada tahun 2009 mendatang Jawa Barat harus sudah quality learning.

Menteri Pemuda dan Olah Raga ketika peresmian mahasiswa baru di UPI tahun 2008 menggambarkan potret masyarakat kita saat ini disela-sela tanah yang subur makmur ditanami gedung-gedung menjulang tinggi namun sayang katanya diantara kemajuan itu masih ada yang ngantri minyak tanah, ngantri air bersih dan raskin tidak sedikit yang masih tidak bekerja alias nganggur dan tidak berpenghasilan untuk makan nanti sore tak heran masih terjadi pencurian, penodongan, perampasan. Untuk kebutuhan air bersih saja pemerintah sudah tidak mampu menghidupi rakyatnya secara gratis tapi harus antri, apalagi pendidikan yang rentan dengan berbagai keperluan buku, peralatan dan kelengkapan sekolah lainnya, rasanya suatu hal yang mustahil untuk dapat di implementasikan.Namun bila melihat produk gedung, mal dan pembangunan lainnya ada terbersit di benak kita bahwa masih ada masyarakat yang mampu membangun, artinya masih ada orang-orang atau pengusaha yang kaya raya di negeri ini. Kalau demikian masyarakat kita sebagian ada yang miskin sebagian banyak yang kaya. Untuk kelompok miskin pemerintah mungkin saja harus mensuplay mereka agar mereka dapat mengakses pendidikan secukupnya akan tetapi apakah dengan pendidikan gratis pemerintah juga harus mensuplay anak mereka yang kaya?.

Potret buram anak-anak kecil Indonesia yang dicatat oleh Internasional Labour Organization ( ILO ) pada tahun 2005 yakni anak-anak yang kehilangan masanya untuk mengenyam pendidikan karena harus memenuhi kebutuhan hidup dengan bekerja, sehingga tercatat 3 juta dari 104 juta angkatan kerja di Indonesia adalah pekerja anak dimana jumlahnya banyak ditemui di pulau Jawa. Di angka 3 juta itu mereka berusia antara 15 -19 tahun yang tidak pernah bersekolah atau tidak lulus sekolah dasar. Hanya 47,46 % nya yang berpendidikan sekolah menengah, kebanyakan tidak lulus. Mereka ini banyak bekerja di bidang pertanian, jasa dan industri rumah tangga. Data ILO tahun 2007 bahwa 70 % atau kurang lebih 132 juta anak perempuan dan laki-laki berusia 5-14 tahun menjadi pekerja di sector pertanian.

Data-data tersebut membuktikan bahwa pendidikan di Indonesia sudah kehilangan filosophinya sudah melenceng jauh dari Sistem Pendidikan Nasional sebagaimana tertuang dalam Undang-undang Nomor 20 tahun 2003 yang dengan tegas merumuskan bahwa tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya yaitu manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, di samping mempunyai pengetahuan dan keterampilan , sehat jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.

Kesadaran pentingnya pendidikan yang hakekatnya akan bersifat memerdekakan manusia dari aspek hidup bathin, bermartabat sebagai manusia yang berbudaya dan memiliki mental yang demokratis, memacu mereka lebih kritis dalam menghadapi kehidupan, memiliki argumentatif sebagai pilihan jalan hidup dan memiliki keberanian menghadapi rintangan, bukankah itu nilai yang lebih penting dari pendidikan?

Upaya pendidikan yang di jalankan sebagai upaya yang sengaja di lakukan secara teratur dan berencana dengan maksud mengubah tingkah laku manusia ke arah yang di inginkan sudah barang tentu tidak dapat dilakukan secara sambil lalu apalagi dengan biaya yang gratis ini adalah satu hal yang tidak mungkin, pola ini sepertinya tidak memberikan bentuk keadilan karena bukan hal yang mustahil si kaya juga ikut mengenyam pendidikan gratis. Alasan inilah yang menjadi dasar penulis untuk membuat makalah tentang PENDIDIKAN GRATIS.

PENDIDIKAN GRATIS

Categories: Artikel Tags: , , ,
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s